2 Way Bi-Wire Loudspeaker

Woofer & tweeter yang aku gunakan untuk project ini adalah merk Curve, produksi PT Sinar Baja Electric Surabaya (Sibalec). Kenapa mesti merk Curve? Harganya terjangkau dan disain speakernya sesuai kaidah-kaidah audio kelas atas; dipandang juga sedep (bumbu kali?). Woofernya berdiameter 6.5 in, dan lumayan bagus dengan dust-cup (bukan breast-cup loh ya) cekung ke dalam, bukan cembung seperti speaker kebanyakan. Tweeternya soft-dome dengan bahan dari kain (fabric).

Untuk menentukan ukuran box aku menggunakan software Speaker Workshop 1.06 dari Audua (speakerworkshop.com). Setelah melakukan test selama kurang lebih 2 minggu (kok lama?), akhirnya aku mendapatkan hasil olahan Speaker Workshop tersebut; box dengan volume 14.5 liter, closed box.

Setelah melalui pemikiran yang panjang (jieeee..), akhirnya aku putuskan untuk menggunakan kombinasi ukuran luar tinggi 33 cm, lebar 23 cm, dalam 29 cm. Semua dinding kotak harus sangat kokoh untuk menekan resonansi; untuk itu aku gunakan papan MDF setebal 18 mm.

Setelah potong-potong dan pukul-pukul selama sebulan (karena mengerjakannya hanya bisa di hari Sabtu & Minggu), akhirnya selesailah sudah box speaker itu. Finishing luar menggunakan kertas item. Kertas? Iya kertas. Sebelum speaker dipasang, box dipenuhin dulu dengan karpet glass-wool. Setelah box benar-benar siap, speaker aku pasang menggunakan kombinasi hex-screw dan t-nut, belinya di AJBS.

Selesai? Belum. Masih ada satu lagi kerjaan, yaitu membuat crossover. Dari sekian banyak referensi, akhirnya aku putuskan untuk tidak menggunakan crossover pasif; terlalu rumit. Rumit? Iya rumit, jangan berpikiran crossover pasif 2 way sudah cukup terdiri dari 2 kumparan dan 2 kapasitor. Itu terlalu sederhana.

150207_1019 Akhirnya aku putuskan untuk menggunakan crossover aktif 2 way, butterworth 3rd order (18dB/octave). Jadi dibutuhkan 2 amplifier stereo (aku gunakan MF-A1), satu untuk woofer, satu lagi untuk tweeter. Terminal speaker yang digunakan, khusus untuk bi-wire, terdiri dari 2 pasang terminal, satu disambung ke woofer, satu lagi disambung ke tweeter.

Setelah semua siap di tempat (kayak rapat). System disusun mulai dari CD player Nakamichi CD-4 dan DVD Pioneer DV-575, trus konek ke volume, trus ke crossover aktif, trus ke 2 power amplifier MF-A1, trus ke speaker.

Sekarang uji dengar dimulai. Kali ini menggunakan CD Ramsey Lewis, Sky Island. Bass-nya bulat, full. Pukulan Cymbal dan hi-hat keluar dari tweeter dengan smooth, sampai terdengar dentingan stick bertemu logam cymbal. Suara snare drum terdengar nyata, bersih. Suara piano terdengar layaknya suara piano.

Lalu dicoba DVD Sade, Lovers Live. Saat nomor Smooth Operator, kayak nonton konser beneran. Seperti duduk di antara penonton lainnya.

Berikutnya aku puter DVD Kitaro, Kojiki A Story in Concert. Masih inget nomor legendaris-nya Matsuri? Itu yang ada si Kitaro nabuh tambur. Volume aku set ¾. Durr …. durr …. ga lama kemudian ada yang ngetok pintu. Ehh tetangga, “mas, wes bedug ta?”

Lah ………………………. glodhag ………………………………………….

Puas? Sebenernya belum seh, belum buat Sub-woofer. Ning uangnya dah abis, tunggu nabung dulu ya.

.. salam ..

Advertisements

Amplifier Musical Fidelity – A1 Clone

Amplifier ini bukan ciptaan/disainku, aku hanya mendisain ulang PCB-nya saja. Merk asalnya adalah Musical-Fidelity seri A1 (disingkat MF-A1). Dengan bantuan dari rekan-rekan diyaudio.com, akhirnya duplikat tersebut (kami menyebutnya sebagai “clone”) bisa aku selesaikan dengan baik. Penggantian hanya dilakukan pada pemilihan transistor akhir yang memiliki karakter bandwidth lebih baik, yaitu pasangan 2SC5200-2SA1943 menggantikan 2N3055-MJ2955.

Sebuah amplifier stereo dengan kekuatan hanya 20 watt RMS per kanal. Dimana 20 watt adalah daya yang sangat kecil bagi penggemar musik hingar-bingar (yang dari kejauhan terdengar : “seng duduk .. blek duduk .. seng duduk .. blek duduk). Tetapi daya ini masih lebih dari cukup untuk sebagian orang yang menggemari musik yang bermutu, yang menginginkan terciptanya sound-stage dan reproduksi suara yang realisitis.

skema mf-a1

Amplifier ini memiliki sirkuit yang sangat sederhana, simetris (fully-complementary-symetry), dan tanpa perlu penyetelan arus diam atau lainnya. Begitu amplifier dirakit dengan benar, power dipasang, dia akan berbunyi dengan sangat baik.

Dengan arus diam sebesar 700mA, dia akan bekerja sebagai amplifier kelas-A murni sampai sekitar 8 watt untuk loudspeaker berimpedansi 8 ohm. Selebihnya dia akan bekerja sebagai amplifier kelas-AB. Power supply sangat sederhana, dengan transformator 18-0-18, 3A, dan dengan pi-filter yang memperkecil ripple dengan drastis. Satu-satunya yang harus mendapatkan perhatian lebih adalah pemilihan pendingin, harus mampu melepas panas dengan segera, bila perlu sebaiknya dibantu dengan kipas brushless.

Setelah PCB sudah siap, aku langsung merakitnya, dalam 2 hari komponen sudah terpasang di atas PCB. Hari ketiga memasang PCB dan menata pendingin di atas pelat aluminium. Ngebor sana ngebor sini, sambung kabel, akhirnya siaplah si amplifier. Ditotal-total, amplifier ini hanya menghabiskan dana sekitar IDR 260 rebu (tanpa box). Dengan pilihan komponen yang bermutu tinggi (resistor metal film, capacitor MKM/MKT, elco tantalum, dll) harga segitu termasuk cukup murah bukan?

Sekarang adalah saatnya uji dengar (tadi malam). Dibantu CD player Nakamichi CD-4 dan loudspeaker 6in bi-wire rakitan sendiri. Uji pertama menggunakan CD Album Norah Jones — Come Away with Me (Blue Note; 66001). Saat dia melantunkan lagu Turn Me On, Suaranya yang basah memenuhi ruang dengarku, seakan si Norah Jones hadir di rumah mungilku, menemaniku mendengarkan amplifier hasil rakitanku ini. Sedetik kemudian dia mendatangiku, dan duduk di pangkuanku, bibirnya yang seksi hanya berjarak 3 cm dari hidungku.

Sek tah, iki saking hebat-e amplifier-e opo seng ngrungkno lagi ngeres .. he he he

…. Kembali ke lap … top … Berikutnya adalah uji dengar dengan Album CD Jim Hall — Youkali (CTI; MA – 70 01 480), katanya seh, “simbah” ini gurunya Pat Metheny. Lagu Django, diawali dentingan suara gitar “simbah” Jim Hall, diiringi getaran khas suara Bass Fretless. Suara gitar Gibson hadir dengan tone yang bulat. Suara perkusi terdengar nyata, hadir di latar belakang. Cymbal, snare drum, semua bersuara di tempatnya masing-masing. Jare wong jowo “gak jambor”.

Sudah puas? Jelas belum, lagi siapin proyek berikutnya, merakit satu MF-A1 lagi dan satu crossover aktif untuk bi-amp, jadi nantinya satu MF-A1 untuk woofer, dan satu lagi MF-A1 untuk tweeter. Tunggu tanggal mainnya ….

…. stay tune ….

Photo power amplifier photo power supply